Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label opini

TEMAN?

Hai... Seperti biasa, gue selalu kebangun pada dini hari. Nggak tau kenapa, mungkin kebiasaan puasa kali ya? Jadi ingetnya tuh sahur. Karena gabut nggak tau mau ngapain lagi, makanya gue mutusin buat nulis sesuatu di sini. Topik yang ingin banget gue bahas, karena gue udah gregetan. Dan sesuai judulnya, gue bakal bahas Teman. Tapi bukan ghibah ya, cuma mau membahas unek-unek gue soal beberapa teman yang rasanya mulai pergi gitu aja, terus dateng kalo lagi butuh. You know what I mean?  Usia gue udah menginjak angka 18 tahun. Dan Alhamdulillah  gue udah lulus.Seneng sih, soalnya gue nggak usah mikirin tugas yang memusingkan dari guru produktif, atau jantungan di kelas karena tiba-tiba ada ulangan dalam keadaan belum belajar. Ya intinya, untuk beberapa saat, gue nggak akan ngerasain itu dulu. Nggak tau tuh kalo nanti gue keterima kuliah, mungkin beda cerita.  Selain perasaan senang karena bebas dari tugas, gue juga senang karena ternyata Tuhan semakin menyaring ling...

Tentang 2 Hal

Dalam hidup yang nggak serba mulus ini, gue mendapatkan banyak pelajaran. Dan pelajaran paling penting adalah bersyukur. Iya, beberapa waktu lalu, gue dihadapkan dengan cerita seorang teman yang kebingungan untuk menentukan arah langkah. Gimana nggak? Masa depan memang harus dipersiapkan, nggak bisa dianggap enteng, walaupun bukan lantas menjadi ribet atau banyak mikir. Mau pilih A, takut salah pilih. Mau pilih B, banyak yang komen kalau nanti ilmunya nggak bakalan terpakai. Padahal, yang namanya ilmu itu nggak ada yang sia-sia. Nggak cuma itu, ada juga seorang teman yang kebingungan memilih antara 2 pilihan dengan masalah yang berbeda. Kalau dia pilih A, nggak direstui sama kakak perempuan dan juga emaknya. Bukan tanpa alasan, tapi itu karena faktor ekonomi. Sementara kalau dia pilih B, dia nggak yakin-yakin amat buat melangkah di jalur itu. She has a dream to make her mother proud of her. Her mom said that she whould be grateful if one of her daughters become a bachelor. And my fr...

KALAU CEWEK DOSA, COWOK JUGA DONG?

Kali ini gue pingin banget bahas soal dosa yang ditujukan kepada  seorang cewek yang bekerja, alias wanita karir. Soalnya, waktu itu, pas gue lagi asik-asiknya scrolling instagram, tiba-tiba gue nemu sebuah postingan yang isinya adalah tulisan tentang dosa-dosa cewek yang kerja di luar rumah, diantaranya; dosa karena menatap rekan kerja lawan jenis, dosa karena berjabat tangan dengan tamu atau sesama kolega, dan dosa karena posisi duduk si cewek yang berdekatan atau bersebelahan dengan rekan kerja cowok. Gue pas baca agak ngerasa bingung. Seketika hati gue seolah memprotes; Kok yang dosa cewek doang? Emang cowok nggak? Kenapa gue bilang seperti itu? Ya karena gue ngerasa heran, kenapa yang dicap dosa itu cuma cewek? Terus apa kabar dengan cowok yang udah  jadi suami? Tugas dia kan cari nafkah, dan yang namanya lingkungan kerja itu nggak bakalan jauh dari kegiatan-kegiatan di atas ( salaman, duduk bersebelahan, ngobrol sambil natap ). Kalau itu semua dosa, berarti ...

Kenapa Nggak Boleh?

Semakin bertambah usia, topik pembicaraan yang orang lain kasih ke gue juga makin naik level. Yang asalnya cuma nanya soal nilai hasil Ujian Nasional, sekarang jadi tentang rencana gue ke depan, khususnya setelah lulus dari SMK. Sebenarnya, masih ada pertanyaan umum yang dikasih, seperti; Kamu mau lanjut kuliah? atau langsung kerja? Dan pasti aku jawab; Ya kalau masuk PTN, kuliah. Tapi kalau nggak, kerja sambil kuliah. Terus ada lagi yang nanya; Mau banget kuliah, Neng? Dan gue jawab; Iya, pingin sampe S2, sih. Pada awalnya, emang nggak ada yang salah dengan orang-orang yang ngobrol tentang itu ke gue. Tapi makin sini, mulai ada tuh celetukan orang-orang; baik bapa-bapa, atau ibu-ibu, tua/muda , yang bilang; Ah, cewek mau gimana juga ujung-ujungnya cuma di dapur. Dan parahnya lagi ada yang menyatakan tentang betapa percumanya gue yang punya cita-cita untuk punya pendidikan Master di bidang yang udah gue tentuin. Ya gue kesel aja gitu, emangnya cewek nggak boleh ya punya cita-ci...

Mati Lampu

Beberapa waktu lalu, ada beberapa obrolan warga net yang bikin gue agak  gedek.   One of them is about  mati lampu yang waktu itu sempat jadi perbincangan karena listrik mati di beberapa wilayah Indonesia, khususnya pulau Jawa. Apa yang bikin gue  gedek ? Yaitu ketika gue lagi baca semua komentar di salah satu postingan yang membicarakan soal mati lampu dan topik listrik jadi bahan perdebatan, gue nemu satu komentar dari salah satu pengguna medsos yang bilang; “ Listrik itu adalah penemuan orang kafir! “. Ngeliat komentar macem gitu,  gue kayak;" Ya terus?  ". Gue nggak ngerti, kenapa dia kudu banget ngomong kalo listrik adalah penemuan ‘orang kafir’? lagian kalau dipikir-pikir, hal yang seharusnya dilakukan bukanlah mempermasalahkan tentang ‘siapa pencipta listrik’ itu. Bukan juga soal agama si orang yang menemukan energi listrik. Tapi ini tentang jasa. Ini bener-bener nggak masuk akal, masih ada manusia yang se-julid itu sama agama orang. Kalau boleh ...