Langsung ke konten utama

Tentang 2 Hal


Dalam hidup yang nggak serba mulus ini, gue mendapatkan banyak pelajaran. Dan pelajaran paling penting adalah bersyukur. Iya, beberapa waktu lalu, gue dihadapkan dengan cerita seorang teman yang kebingungan untuk menentukan arah langkah. Gimana nggak? Masa depan memang harus dipersiapkan, nggak bisa dianggap enteng, walaupun bukan lantas menjadi ribet atau banyak mikir. Mau pilih A, takut salah pilih. Mau pilih B, banyak yang komen kalau nanti ilmunya nggak bakalan terpakai. Padahal, yang namanya ilmu itu nggak ada yang sia-sia. Nggak cuma itu, ada juga seorang teman yang kebingungan memilih antara 2 pilihan dengan masalah yang berbeda. Kalau dia pilih A, nggak direstui sama kakak perempuan dan juga emaknya. Bukan tanpa alasan, tapi itu karena faktor ekonomi. Sementara kalau dia pilih B, dia nggak yakin-yakin amat buat melangkah di jalur itu. She has a dream to make her mother proud of her. Her mom said that she whould be grateful if one of her daughters become a bachelor. And my friend want make it happen. Dia yang cerita, dan hati gue benar-benar tersentuh. Mungkin gue lebay, tapi serius gue jadi tersadar akan banyak hal yang selama ini nggak gue syukuri.

Keadaan orang-orang emang berbeda. Ada yang lahir dari keluarga berada tapi nggak bahagia. Ada yang lahir dari keluarga sederhana, tapi serba cukup. Ada juga yang beruntung, nggak kesulitan soal finansial dan keluarganya adem ayem macem angin di sawah. Lalu masih banyak lagi yang lainnya.

Mendengar cerita dari teman-teman, gue akhirnya sadar bahwa hal yang dari dulu kurang bisa gue lakuin adalah bersyukur. Gue rasa kalau pribadi ini kebanyakan ngeluh, sampai lupa kalau ternyata Tuhan selalu ngebantuin supaya gue nggak kesusahan. Gue juga kadang suka lupa bersyukur hanya karena uang gue nggak cukup buat memenuhi keinginan. Sampai nggak inget kalau Tuhan udah baik banget buat ngizinin gue hidup, bernapas, melihat dunia, otak masih bisa dipake, keluarga yang lengkap dan harmonis. Selama ini, gue merasa terlalu mengukur kebahagiaan dari seberapa banyak hal yang bisa gue dapetin. Nggak peduli ada atau nggak, yang penting gue harus dapet. Nggak jarang, gue selalu ngedumel tiap kali apa yang gue mau nggak dikasih. Intinya, sesuatu yang nggak gue sadari itu adalah lupa bersyukur. Mungkin dulu gue ngerasa bahwa bersyukur itu berarti kita nggak boleh ngomel sama apa yang dikasih, terus ngerasa bangga ketika apa yang diinginkan bisa didapetin dan dengan sombongnya gue bilang bahwa itu semua adalah hasil kerja keras gue sendiri, tanpa inget ke Tuhan yang udah sudi memudahkan jalan gue biar nggak kesandung di tengah jalan. Sekarang, gue jadi paham makna dari kata syukur itu seperti apa. Gue rasa, bersyukur bukan sekadar mengucap Alhamdulillah, tapi juga menghargai dengan sepenuh hati atas apa yang dikasih. Bersyukur itu bukan cuma perkara lo ngaku ngerasa cukup, tapi melalui apa yang udah lo dapet dan lo inget bahwa ada dzat Maha Baik yang mau nolongin lo. Bersyukur itu, adalah ketika lo mendapatkan hasil yang nggak sesuai ekspektasi, tapi lo nggak kecewa, karena Tuhan udah nyelamatin lo dari jalan yang salah walaupun lo pikir itu baik.

Di samping rasa syukur, ada hal yang juga berhasil mengubah gue untuk jadi lebih kalem buat ngejalanin hidup. Ikhlas. Bermula dari ngebaca bukunya Gitasav berjudul Rentang Kisah, gue mempelajari kata ikhlas yang sesungguhnya. Ikhlas dalam banyak hal, ketika lo speak up terus ada yang nggak sependapat, ya lo terima dengan lapang dada tanpa harus julid ke orang itu. Pun ketika mengenakan jilbab, gue lebih mementingkan keikhlasan gue dalam berpakaian ketimbang ngikutin takaran orang lain yang ngukur seberapa shaleh seseorang hanya dari panjang kerudung yang digunakan. Gita pernah bilang bahwa dia pakai jilbab karena dia ingin connect ke Tuhan. Dan gue memiliki niat yang sama, walaupun kerudung gue lempar kanan kiri, tapi gue ngerasa dalam lindungan-Nya. Setiap orang punya definisi ketaatannya masing-masing. Dan buat lo yang masih julid karena mikir bahwa orang seperti gue nggak taat, just stop it!  Gue nggak butuh penilaian dari mata lo, karena itu benar-benar nggak penting. 

Ya pada intinya gue menemukan satu titik ketenangan, di mana gue punya 2 hal yang berhasil mengajarkan gue; Bersyukur dan Ikhlas. And also the most, Allah. He Would never give me the light if I don't seek the truth of Him. 

Dulu, gue merasa (lagi) bahwa doa itu nggak terlalu berpengaruh. Tapi di saat gue berada pada posisi di mana gue benar-benar butuh Dia, He showed me the way, Dia bantu gue, Dia tenangin gue, Dia cabut segala hal yang bikin gue mewek karena rasa takut, hanya dengan gue sujud dan menengadahkan kedua tangan, gue bisa merasakan pelukkan-Nya. Ketika gue buntu, nggak tau mau ke mana, cuma dengan berdoa ke Dia yang berhasil menuntun gue ke jalan yang benar (walaupun diri gue belum benar). Gue pernah dengar ucapannya salah seorang Ustadz yang bilang: " Kenapa kita nggak pernah liat kejaiban, karena kita nggak yakin-yakin banget sama Allah ". Deg. Rasanya kayak ditampar. Ternyata selama ini gue terlalu ragu sama yang Maha Punya, dan lebih percaya sama manusia yang banyak bacot dengan segala keruwetan pola pikirnya. Berdoa sih berdoa, tapi gue lupa buat ngerasa yakin sama apa yang gue minta ke Dia. Makanya gue nggak sadar kalau sebenarnya dia udah mengabulkan doa gue, walaupun apa yang gue dapet nggak sesuai dengan apa yang gue doain, tapi ini lebih baik:)

Gue greget sama orang yang kalau disuruh berdoa suka bilang 'nggak ngaruh/ tetep aja/ basi!' Mungkin ada yang salah dengan diri lo atau mungkin hati lo?

Being faithful to God is not a loss. Your life can be better if you believe in His miracles. He will direct you to the right way. He will never let you down. Pray, then you'll find the answer. You'll never find another end, cause we will return to Him after all. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa harus seberisik ini?

Hai! Ya ampun, gue harus tiup debu dulu deh di sini💨 Udah berapa lama gue membiarkan blog ini terbengkalai dan nyaris angker saking seringnya gue tinggalin? Tapi ya udah lah ya, yang penting sekarang gue nulis lagi di sini walaupun isi tulisannya nggak jauh dari curhat.  Btw, curhatan gue sekarang mengingatkan gue pada lagu 00.00 O'clock-nya BTS. Dari awal dengerin pas masa-masa persiapan UTBK, lagu itu masih relate banget sama gue sampai sekarang.  Oke skip! Akhir-akhir ini, gue ngerasa senang banget dengan dunia perkuliahan yang gue jalani. Setelah mulai offline  sejak tanggal 5 lalu, gue jadi ngerasa hari-hari gue tuh produktif banget. Dengan jadwal kuliah dari hari senin sampai sabtu (jum'at kosong), gue jadi bisa memaksimalkan waktu yang gue punya untuk mengerjakan ini dan itu. Ditambah lagi gue punya tanggung jawab lain di organisasi luar yang walaupun nggak sibuk-sibuk amat, tapi setidaknya gue jadi bisa memakai waktu selama enam hari penuh di setiap minggunya unt...

PKL

Jika gue bisa memilih untuk hidup jadi orang kaya atau sederhana, gue pasti akan milih untuk terlahir di keluarga kaya raya. Karena dengan begitu, uang di rekening gue bisa terisi setiap bulan berkat ditransferin ortu. Dan yang pasti, gue nggak perlu merasa khawatir bakalan kena masa galau gara-gara dompet kosong berisi struk pembayaran. Gue juga bisa minta apa aja ke orangtua supaya mereka mau nurutin apapun yang gue mau, termasuk buat belajar ke luar negeri.  Kalau gue dikasih hidup sebagai orang yang bergelimang harta, nggak lain dan nggak bukan, udah pasti uang itu gue pakai untuk sekolah. Entah itu belajar bahasa di masing-masing negara yang bahasanya ingin gue pelajari, mengikuti berbagai kegiatan pertukaran pemuda ke negara lainnya, atau sekadar jalan-jalan buat menuhin paspor dengan Visa Schengen. Ya intinya, gue mau supaya kelebihan materi itu bisa gue manfaatkan untuk meningkatkan kualitas diri gue sebagai perempuan. Setelah gue selesai membekali diri dengan kualitas dan ...

Dear, Me

San, tulisan ini sengaja dibuat sebagai pengingat untuk diri kamu. Diri kamu yang selalu dikurung oleh rasa takut. Meski begitu, aku tetap salut karena diri kamu selalu yakin sama pilihan kamu, segila apapun itu. Diri kamu nggak pernah mau nyerah sama keadaan. Dan yang lebih penting, diri kamu selalu percaya dengan maksud baik Tuhan dari segala hal pahit yang terjadi.  Sekarang, mungkin kamu masih belum menemukan titik terang tentang ke mana kamu akan membawa diri dan masa depan. Kamu masih nggak tau, harus milih jalan A atau B. Kamu masih bingung untuk lanjut di jalan yang sekarang lagi kamu jalanin atau pindah ke jalan baru yang lagi kamu usahakan. Semua itu emang nggak mudah, tapi aku tau kamu udah berusaha. Urusan hasilnya ... biar Tuhan aja yang tentuin. Dia lebih tau mana yang terbaik buat kamu.  San, aku tau kalau ketakutan terbesar kamu adalah tidak menjadi apa-apa di masa depan. Bahkan mungkin ketakutan itu semakin menjadi-jadi sekarang, ketika apa yang kamu jalani ng...